BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sekretaris
mempunyai peran penting bagi setiap lembaga atau perusahaan. Setiap lembaga
atau perusahaan sangat membutuhkan sekretaris. Sekretaris harus bisa menguasai
pekerjaan kantor. Untuk menjadi sekretaris yang baik sangat membutuhkan
kecekatan dan kecermatan pada diri kita masing-masing. Sehingga jika dari dalam
diri kita sudah memiliki sifat cekatan dan cermat, bisa melaksanakan tugas dan
tanggung jawab kantor, maka kita sudah bisa disebut sebagai sekretaris.
Kantor
yang efektif karena di dalamnya terdapat sekretaris. Ciri sekretaris bisa
digambarkan seperti seorang sekretaris bertemu dengan klien. Untuk bertemu
klien, sekretaris harus mempunyai cara-cara tersendiri agar dinilai baik oleh
klien. Sekretaris juga harus bisa menjadi manager. Menjadi manager disini harus
bisa menggantikan posisi manager ketika manajer berada di luar kota. Sekretaris
juga harus memiliki sifat human relation. Sifat human relation ialah adanya
interaksi antar kedua belah pihak yang saling memperoleh kepuasaan pada saat
berkomunikasi.
Sekretaris
di dalam kantor yang efektif tentunya memiliki nilai-nilai positif pada diri
seorang sekretaris. Seorang sekretaris bisa melaksanakan tanggung jawabnya di
kantor karena sekretaris memiliki sifat yang tidak dapat dijumpai pada profesi
lainnya. Seorang sekretaris bisa memimpin rapat, bertemu klien dengan baik dan
benar, berkomunikasi yang efektif dan sebagainya. Karena seorang sekretaris memiliki
kode etik yang perlu diterapkan pada diri seorang sekretaris agar menjadi
sekretaris profesional.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan sekretaris?
2. Apa saja kode etik yang terdapat pada sekretaris?
3. Bagaimana sekretaris dengan kode etiknya?
C. Tujuan
1.
Untuk menjadikan
sekretaris yang benar-benar bekerja di kantor dengan baik.
2.
Untuk menjadikan
sekretaris sebagai profesi di dalam kantor.
3.
Untuk
meningkatkan karir sekretaris di dalam kantor.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sekretaris
Sekretaris
sangat berperan penting bagi suatu lembaga atau perusahaan yang berdiri untuk
mencapai tujuannya. Jabatan sekretaris merupakan jabatan profesional yang bisa
dikembangkan. Pekerjaanya membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus yang
diperoleh dengan mengikuti jenjang pendidikan secara formal. Akan tetapi
pendidikan formal saja tidak cukup memperkaya khasanah pengetahuan dan
keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan perkantoran dan memimpin anak buahnya
dalam bekerja. Untuk itu diperlukan seperangkat latihan teknis dan
pengalaman-pengalaman yang memadai. Dengan keterampilan yang kaya serta
pengalaman tersebut seorang sekretaris menjadi lebih arif dalam menjalankan
fungsi pengarahan kepada anak buah.
Menurut
Louis C. Nahassy dan William Selden (Drs.
Sutarto, 1992:2)
mengemukakan bahwa:
Seorang pegawai kantor yang memiliki kedudukan yang lebih
bertanggung jawab daripada seorang stenographer dan tugas-tugasnya biasanya
meliputi pengambilan dan penyalinan dikte berurusan dengan publik untuk menjawab
telepon, mengundang pertemuan, membuat perjanjian dan memelihara atau mengarsip
warkat-warkat, surat-surat, dan lain-lain. Seorang sekretaris sering bertindak
sebagai seorang pembantu administrasi atau pimpinan muda.
Pendapat
lain menurut M. Braum dan Roman (Drs.
Sutarto, 1992:3) mengemukakan bahwa:
Seorang
pembantu dari seorang kepala yang menerima pendiktean, meyiapkan
surat-menyurat, menerima tamu-tamu, memeriksa dan mengingatkan kepalanya
mengenai kewajibannya yang sesuai atau perjanjiannya dan melakukan banyakn
kewajiban lainnya yang berhubungan guna meningkatkan efektifitas dari kepala
pimpinan.
Berdasarkan uraian diatas mengenai sekretaris, maka secara
umum sekretaris adalah seorang karyawan atau pegawai yang diangkat oleh
pimpinannya sebagai pembantu pribadinya untuk mengerjakan tugas-tugas kantor
atau perusahaan, karena dianggap dapat dipercaya dalam mengerjakan tugas-tugas
pimpinan dan dapat memegang rahasia perusahaan.
Sebelum
seorang diangkat sebagai sekretaris, orang tersebut harus cukup mempunyai
pengalaman dalam berbagai pekerjaan tata usaha kantor, maka dengan demikian
orang itu harus mencoba menangani pekerjaan yang tanggung jawabnya belum begitu
luas, misalnya: sebagai resepsionis, operator, korespondensi dan lain-lain. (Waworuntu,
1995: 59-61)
Pekerjaan
sekretaris berkembang atau bertambah banyak seiring dengan tingkat kedudukan
sekretaris itu sendiri serta penugasan dari atasannya atau pimpinannya. Pada
saat menjadi pegawai baru barangkali job yang diberikan oleh pimpinan/lembaga
hanya terbatas. Sejalan dengan perkembangan organisasi dan tingkat
intelegensi/kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya, kemungkinan
pekerjaanya akan bertambah. Hal ini memberikan tingkat kedudukan sekretaris itu
sendiri.
Pengertian
sekretaris berkembang sesuai dengan tugas yang menjadi bebannya, yaitu Sekretaris
Pimpinan sebagai penjabat pembantu dalam pengurusan warkat. Dalam hal ini
pengertian sekretaris menyangkut tugas-tugas yang berkenaan dengan
korespondensi, pengarsipan, membuat undangan pertemuan. Atau dengan kata lain
bahwa Sekretaris Pimpinan adalah seorang yang membantu pimpinan dalam
penghimpunan, pencatatan, pengelolaan, pengadaan, pengiriman, penyimpanan,
pemeliharaan dan penyingkiran bahan informasi. Sekretaris Pimpinan biasanya
disebut pula sebagai Sekretaris Pribadi (private
secretary). Istilah pribadi menyangkut hal-hal yang di luar kedinasan.
Sehingga Sekretaris Pimpinan cenderung lebih formal (kedinasan) daripada
Sekretaris Pribadi. Contoh Sekretaris Pimpinan a.l: Sekretaris Menteri,
Skeretaris Direktur, Sekretaris Rektor.
Sekretaris
organisasi sebagai pejabat pembantu dalam pengurusan tata warkat dan
administrasi. Yang dimaksud disini adalah sekretaris yang tidak semata-mata
membantu pimpinan tetapi juga memberikan bantuan kepada keseluruhan organisasi
baik melakukan pengurusan yang berhubungan dengan tata warkat maupun unsur
administrasi, yang meliputi: keorganisasian, manajemen, komunikasi (tata
hubungan), tata keterangan (informasi), personalia (tata kepegawaian),
finansial (tata keuangan), materia (tata perbekalan), relasi publik (tata
kehumasan).
Adapun contoh jabatan sekretaris organisasi,
misalnya jabatan: Sekretaris Wilayah Daerah, Sekretaris Negara, Sekretaris
Direktorat Jendral.
Sekretaris
organisasi sebagai pejabat pembantu dalam bidang politik. Sekretaris tersebut
menjalankan tugas yang ada hubungannya dengan politik. Istilah tersebut ada di
Amerika, menteri Luar Negerinya disebut Secretary
of State, kemudian di Vatikan Menteri Pertahanan disebut Secretary of Defence.
Sekretaris sebagai pejabat Pimpinan Administrasi dan
Politik. Dalam hal ini seorang sekretaris bukan sebgai pembantu, melainkan
sebgai atasan. Pekerjaannya meliputi unsur administrasi juga hal-hal yang
berbau politik, misalnya Sekretaris Perserikatan Bangsa-bangsa.
B. Etika yang Harus
dimiliki Sekretaris
Dalam
pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat
internasional diperlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya
manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling
menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan
lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan
masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung
tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah
dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan
dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika
di masyarakat kita.
Pengertian
etika (etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat
dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa 15 Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat
kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik
(kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika adalah
refleksi dari apa yang disebut dengan “self
control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk
kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
Sedangkan
istilah etiket berasal dari Etiquette (Perancis) dari awal suatu kartu undangan
yang biasanya dipergunakan semasa raja-raja di Perancis mengadakan pertemuan
resmi, pesta dan resepsi untuk kalangan para elite kerajaan atau bangsawan.
Dalam pertemuan tersebut telah ditentukan atau disepakati berbagai peraturan
atau tata krama yang harus dipatuhi, seperti cara berpakaian (tata busana),
cara duduk, cara bersalaman, cara berbicara, dan cara bertamu dengan sikap serta
perilaku yang penuh sopan santun dalam pergaulan formal atau resmi.
Dari
penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan mengenai definisi etika yaitu
dasar atau pedoman seseorang untuk melakukan sesuatu hal atau kegiatan yang
berkaitan dengan tata perilaku didepan umum maupun dalam kelompok kecil
sehingga perilaku dapat terkontrol sesuai dengan norma yang berlaku. Sedangkan
etiket merupakan peraturan sopan santun dalam pergaulan dan hidup
bermasyarakat.
Etika
(ethics) berarti moral sedangkan etiket
(etiquette) berarti sopan santun.
Persamaan antara etika dengan etiket yaitu:
1. Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia yang
memberikan pedoman atau norma-norma tertentu yaitu bagaimana seharusnya
seseorang itu melakukan perbuatan dan tidak melakukan sesuatu perbuatan.
Istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai binatang karena
binatang tidak mengenal etika maupun etiket.
2. Keduanya mengatur perilaku manusia secara normatif
artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa
yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Justru karena sifatnya
normatif maka kedua istilah tersebut sering dicampuradukkan. Normatif maksudnya
adalah merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara
baik dan menghindarkan halhal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang
disepakati dan berlaku di masyarakat.
Sedangkan
perbedaan antara etika dengan etiket adalah sebagai berikut:
1. Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia.
Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta
ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu.
Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah
perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut
masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
2. Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Etika selalu
berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan
walaupun pemiliknya sudah lupa.
3. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan
dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Etika
jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri”
merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.
4. Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah
saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur
katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun
munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik
karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap
etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.
Etika
yang harus dimiliki seorang sekretaris yaitu:
1. Etika dan Etiket dalam Menerima Tamu
Kata
“tamu” dapat berarti orang yang datang berkunjung ke tempat orang lain atau
orang yang datang ke perjamuan. Dalam hal ini sekretaris berperan sebagai
filter bagi setiap tamu yang ingin menemui pimpinan. Sekretaris berhak
menanyakan maksud kedatangan seseorang.
Pada saat menjalankan tugas ini, kemampuan
berkomunikasi dan bernegosiasi dengan baik sangat dibutuhkan. Sekretaris harus
mampu merangkai katakata untuk mengungkapkan dengan sopan dan hormat suatu
penolakan dari pimpinan.
Oleh
karena itu, etika seorang sekretaris atau petugas penerima tamu harus dijaga
setiap saat. Ia harus selalu ramah, sopan, bijaksana, cerdas, 18 berkepribadian
tinggi, dan komunikatif. Menurut Durotul Yatimah (Rininda Dhaneswara, 2009:85).
2. Etika ketika Bertelepon
Dalam
kominikasi lisan melalui telepon, sekretaris harus lebih terampil, cekatan,
seksama dan cermat. Pada saat menerima telepon, pesan melalui telepon harus
dapat diserap dan disalurkan kepada yang berhak, khususnya kepada pimpinan
dengan tepat, cepat dan jelas.
Gouzali
Sydam dalam Euis Honiarti (2004:7) mengemukakan bahwa “ istilah telepon pada
mulanya berarti suara dari jarak jauh”. Sedangkan perangkat telepon pada
tahun-tahun belakang ini telah mengalami perubahan bentuk dan sistem. Suatu
sistem telepon berperan sebagai jaringan komunikasi percakapan antara dua buah
pesawat. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa telepon adalah alat untuk
berkomunikasi jarak jauh antara komunikator dengan komunikasi karena tidak
dapat bertatap muka atau bertemu langsung.
3. Etika Menggunakan Ponsel
Saat
ini penggunaan ponxel dikalangan masyarakat umum bukan hal yang baru lagi
tetapi ponsel sudah menjadi kebutuhan bagi banyak orang. Tidak hanya untuk
kehidupan sehari-hari tetapi juga untuk kepentingan kantor, karena kemudahannya
dan juga praktis dibawa kemanapun. Saat ini banyak kepentingan kantor saat ini
sudah berlabel “smartphone” atau “android” dengan kelengkapan jaringan
3G/HSDPA/EDGE/GPRS sehingga dapat digunakan pengganti komputer sekaligus.
Dengan mengetahui manfaat menggunakan ponsel, seorang sekretaris akan lebih
mudah menggunakan ponsel.
4. Etika Saat Jamuan Makan
Etika
sendiri dapat dimaknai suatu ketentuan/tata cara yang berlaku sebagai suatu
ketentuan /tata cara yang berlaku berlaku sebagai sebagai norma yang disepakati
dan didasarkan atas kebiasaan yang berlaku. Dalam bidang perhotelan istilah
etika dikenal dengan nama dengan nama “Courtesy”.
5. Etika Menghadiri Pertemuan/Rapat
Rapat merupakan suatu media kondisi
komunikasi yang bersifat face to face yang sering diselenggarakan oleh berbagai
organisasi, baik swasta maupun pemerintahan. Rapat merupakan alat untuk
mendapatkan mufakat melalui musyawarah kelompok dan juga sebagai media dalam
pengambilan keputusan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat (Ignatius Wursanto,
2006:150).
Rapat
diadakan apabila pimpinan memerlukan sumbangan pendapat dari para staf, karena
pimpinan tidak dapat mengambil keputusan secara sepihak. Rapat juga dapat
diadakan apabila materi yang akan dibicarakan bersifat rahasia sehingga pimpinan
berpendapat bahwa materi itu tidak tepat apabila disalurkan melalui saluran
administrasi pada umumnya dan harus segera dipecahkan bersama-sama
6. Etika Bergaul di Kantor
Di
kantor sering kita berhubungan dengan banyak orang dan memiliki sifat yang berbeda-beda.
Sebab itu kita perlu memperhatikan etiket yang berlaku di kantor tertentu.
Skill kita dalam Human Relation,
sikap pribadi kita dalam mempertimbangkan sesuatu atau tindakan kita akan
tercermin dalam hal-hal yang kelihatannya sepele dari apa yang kita kerjakan
dan katakan. Jelas bukan suatu usaha/pekerjaan yang mudah untuk memperoleh
simpati dan respek-respek dari rekan-rekan kerja. Sebagai sekretaris harus
menerapkan semua aturan-aturan yang menjadi pedoman atau dasar dalam pergaulan
saat dilingkungan kantor, ditambah lagi dengan hal yang akan dijumapai melalui
pengalaman.
C. Sekretaris
dengan Kode Etiknya
Ketika
seorang sekretaris sudah menguasai kode etik yang ada, sekretaris akan mudah
menjalankan profesinya sebagai sekretaris di kantor. Contoh dari kode etik yang
pertama, seorang sekretaris bersikap penuh percaya diri pada saat menjalankan
tugasnya walaupun sekretaris sedang mengalami kegundahan. Sekretaris bisa
menerima tamu dengan baik, karena seorang sekretaris tersebut tetap
memperkenalkan dirinya kepada tamu dengan senyuman manis walaupun sekretaris
tersebut sedang banyak kerjaan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Menjadi
seorang sekretaris harus mampu menguasai kode etik. Jika seorang sekretaris
dapat menguasai kode etik yang ada, seorang sekretaris akan memberikan nilai
tersendiri untuk profesi sebagai sekretaris. Tercapai atau tidak kantor yang
efektif berada pada manajemen kantor yang dipegang oleh seorang sekretaris yang
memiliki kode etik. Oleh karena itu, mari kita tekankan pada profesi seorang
sekretaris untuk memperhatikan kode etik sekretaris agar kantor menjadi
efektif. Semoga
B.
Saran
Sebaiknya kita sebagai calon seorang
sekretaris harus memperhatikan kode etik yang ada. Karena kode etik dalam
sekretaris itu sangat penting bagi kantor yang akan mencapai tujuannya.
DAFTAR PUSTAKA
Dwi. 2011. Sekretaris (Pengertian, tugas, dll).
Diunduh dari http://www.bukupr.com/.
Pada hari Minggu, 31 Mei 2015.
Ebta,
Setiawan. 2015. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Diunduh dari kbbi.web.id. pada hari Selasa, 26 Mei 2015.
Rininda
Dhaneswara. 2015. Pengembangan
Kepribadian Sekretaris. Diunduh dari http://eprints.uny.ac.id/.
Pada hari Minggu, 31 Mei 2015.
Rosidah dan
Ambar Teguh Sulistiyani. 2005. Menjadi
Sekretaris Profesional dan Kantor yang Efektif. Yogyakarta: Gava Media.
Spend. 2012. Definisi Sekretaris. Diunduh dari http://kesekretariatan12.blogspot.com/.
Pada hari Minggu, 31 Mei 2015.
1 komentar:
Casino Roll
Casino Roll 마추 자 먹튀 - Find out 22 bet where you are 블랙잭 룰 playing and get a Welcome Bonus! 승인전화없는 토토사이트 ☝️ Promotions ☝️ Sign up for a new account today! 트 위치 룰렛 Rating: 4.4 · Review by Casino Roll
Posting Komentar